HADIRNYA
Rasa itu datang tiba-tiba
Dari atas?
Dari bawah?
Depan atau belakang?
Tak ada yang tahu
Tak
bisa ditolak
Tak
bisa dipungkiri
Datang
tak berbicara
Memenuhi
pikiran..
Saat datang, aku terdiam
Bungkam…
Nyatanya lengking hati tak teredam
Lelah memendam
Ini tak semudah mencerahkan kelam
Atau sekadar hilangkan kesan suram
Lenyapkannya membuat hati tenggelam
Oleh air mata di malam- malam temaram
Musnahkan rasa yang terlalu lama terselam
Haruskah aku
menerima kehadiran rasa itu
Pahitnya terasa
membunuh mencaci makiku
Kala jiwa tenang
terguncang amarah baru
Melepas satu per satu
Mulut terkunci
tangan membeku
Aku bisu karena
kamu
Aku kaku karena
kamu
Aku
takut kehilanganmu
Dan harapan
tergantung dalam bayang
Kelebatnya nampak
tapi tak terasa
Mencoba memeluknya
Tapi hilang
Tuhan…biarkan
begini
Kokohkan sayap ini
Agar dapat
dibawanya
Aku, dia, dan semua
rasa itu
212 J
(Ida, Sipeh, Tikah, Ana)