Minggu, 14 April 2013

PUISI 212




HADIRNYA



Rasa itu datang tiba-tiba
Dari atas?
Dari bawah?
Depan atau belakang?
Tak ada yang tahu
Tak bisa ditolak
Tak bisa dipungkiri
Datang tak berbicara
Memenuhi pikiran..
Saat datang, aku terdiam
Bungkam…
Nyatanya lengking hati tak teredam
Lelah memendam
Ini tak semudah mencerahkan kelam
Atau sekadar hilangkan kesan suram
Lenyapkannya membuat hati tenggelam
Oleh air mata di malam- malam temaram
Musnahkan rasa yang terlalu lama terselam
Haruskah aku menerima kehadiran rasa itu
Pahitnya terasa membunuh mencaci makiku
Kala jiwa tenang terguncang amarah baru
Melepas satu per satu
Mulut terkunci tangan membeku
Aku bisu karena kamu
Aku kaku karena kamu
Aku takut kehilanganmu
Dan harapan tergantung dalam bayang
Kelebatnya nampak tapi tak terasa
Mencoba memeluknya
Tapi hilang
Tuhan…biarkan begini
Kokohkan sayap ini
Agar dapat dibawanya
Aku, dia, dan semua rasa itu

 212 J
(Ida, Sipeh, Tikah, Ana)